Memangnya tumbuh dewasa harus melekat dengan definisi sempurna?."
"Ulangi!, kalau memang gak bisa totalitas kamu gak perlu kerja disini resign saja."
Suasana ruang ini selalu sama sejak 2 tahun lalu ia bekerja disini, Terkadang di pikiran nya juga terbayang pernyataan yang sering dilontarkan oleh orang yang berjabatan lebih tinggi darinya; tidak profesional, buruk, gagal. Bahkan sampai tadi "kamu gak perlu kerja disini, resign saja."
Ia kembali ke tempat duduknya, kemudian mulai mengerjakan ulang seluruh laporannya, menghela napas sudah lewat jam sejak sang manajer menyuruhnya mengulang seluruh laporannya kini seluruhnya telah selesai. Ia berdiri membereskan peralatannya, menatap setiap bangku-bangku kosong dan beberapa ruang yang lampunya telah padam, melewati lorong. menyusuri anak tangga, hingga melanjutkan jalannya sampai pada halte bus, ia mendudukkan dirinya sesekali melihat padatnya alur kota. Pandangannya terhenti pada segerombolan anak sekolah yang lontang-lanting seraya tertawa melempar canda.
la ikut tersenyum, mengingat masa sekolahnya dulu.
"Apa belum ada yah? Alat yang bisa mengulang masa lalu, enaknya hidup tanpa lembur, tanpa mendengar kata gagal setiap harinya"
"Aku mau kembali". Gumamnya
Bus itu segera datang, membawanya ke tempat singgahnya di kota ini, sebuah tempat kecil;kost-kostan yang sudah padat orang, gedung kost-kostan itu berhimpitan dengan gedung lainnya sehingga tak heran jika cahaya mentari selalu terlambat menyapanya.
Setelah memutar engsel pintunya, ia melihat sekeliling ruang kecil itu, jendela kecil ber-tirai abu-abu, diseberangnya kasur kecil. Ia menyalakan lampu lalu segera berlari merebahkan dirinya, menumpahkan segala rasa lelahnya diatas kasur itu, dering handphone nya terdengar,
satu notifikasi masuk lagi.
'laporan mu jelek sekali, ulangi !"
"Ah, pak tua itu lagi, kalau begini rasanya aku mau resign saja!"
"Tapi mau cari uang dimana lagi?, aku takut gagal ditempat lain" Ucapnya. Perlahan ia mulai mengingat kembali masa-masa sekolahnya, saat tanggungan dirinya masih bukan tanggung jawabnya seorang, saat ia masih bisa bermain bebas sampai malam.
"Ulangi lagi, aku mau bermain lagi"
Ucapnya sebelum berat kelopak matanya berhasil menutup rapat kedua netra nya.
Dering handphone itu terdengar lagi, lebih keras dan lama dari sebelumnya suaranya lebih mirip sebuah alarm ketimbang satu notifikasi, atau jangan-jangan ia di telpon oleh manajer di kantor?.
Segera ia bangun, matahari pagi itu sangat cerah lebih cerah dari hari-hari sebelumnya, dia mungkin telah terlambat ke kantor, dengan panik di wajahnya mencari-cari keberadaan handphonenya.
"Ketemu!...eh loh? Ternyata alarm masih jam 7.00, aku jelas belum terlambat. Kupikir pak tua itu mau protes lagi."
"Jam 7.00 ?, seharusnya hari belum secerah ini"
Kali ini ia benar-benar membuka matanya, mencoba melihat sekelilingnya kemudian kembali melihat jam di handphone nya.